Cukup Malin Kundang, jangan Ibunya!

Masih inget Malin Kundang kan?
disitu diceritakan bagaimana nasib seorang anak yang durhaka karena tidak mau mengakui orang tuanya berakhir tragis dengan menjadi batu.

Meskipun cerita itu cuma legenda tetapi mengandung suatu pesan yang nyata bagaimana seorang anak harus berbakti dan menghargai orang tuanya. Tetapi sejauh mana seorang anak harus berbakti? pertanyaan itu muncul setelah gw ngeliat berita di sebuah stasiun TV (SCTV) bagaimana seorang ibu (kandung!) dengan teganya menyuruh anaknya yang masih dibawah umur menjual diri dengan alasan untuk membayar hutang si Ibu!!

Bila sang anak menolak perintah ibunya apakah ia akan menjadi anak durhaka?? Gw rasa sepatutnya dalam hal ini si Ibu lah yang menjadi seorang ibu durhaka dan layak dikutuk menjadi batu (dan seharusnya lebih hina lagi dari sekedar batu!)

Comments

Dendi said…
iya dam..
jadi sedih juga, kalo seorang ibu saja sudah tega menjual sendiri anaknya..
moga-moga aja kita jangan sampai menjadi orang tua yang seperti itu..
Kadang-kadang yang aku takutin setelah baca-baca berita seperti itu adalah.. jangan-jangan ntar aku sendiri yang berbuat seperti itu..
aduuh jangan sampai deh..
Avante said…
Iya den...
Jaman sekarang kayaknya emang lebih susah punya anak cewek daripada anak cowok
sesy said…
sedih dan marah itu perasaan yang kerasa waktu nonton tayangan kayak gitu, anak kan juga berhak bahagia dan memilih hidupnya sendiri

Popular posts from this blog

Numa - Numa Fever

Hari yang Aneh