Do we change?

Tanggal 20 Mei belum lama berselang, judul yang diusung untuk hari itu pun sangat "wah" SEABAD Hari Kebangkitan Nasional, tapi perayaan itu seolah terasa hambar dari gaungnya yang besar didengungkan media massa dan pemerintah.

Fakta di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya, dimulai dari kegagalan tim Thomas dan Uber mengembalikan Piala lambang supremasi beregu putra dan putri Bulutangkis ke Indonesia, setelah itu meninggalnya tokoh2 'langka' bangsa ini, Sophan Sopyan, Ali Sadikin dan terakhir SK Trimurti secara hampir bersamaan.

Kembali ke bidang olahraga, Timnas Sepakbola dihantam oleh klub juara Bundesliga, Bayern Muenchen yang notabene hanya menyertakan 3 pemain seniornya ke dalam tim yang dibawa ke Indonesia. Hal ini seolah makin menegaskan bobroknya PSSI sebagai pemegang otoritas tertinggi sepakbola di Indonesia.

Pemerintah pun seolah tak mau ketinggalan dengan PSSI, dengan membuat rakyat Indonesia makin terbenam dalam penderitaan dan kekecewaan setelah menaikkan harga BBM 4 hari setelah perayaan Harkitnas, serta beredarnya (lagi) kasus mesum dari Senayan yang melibatkan anggota DPR senior dari Partai yang kita kenal selalu "berjuang"(?)

Kekecewaan terus menerus yang mendera rakyat bangsa ini seolah menantang komitmen kita untuk bangkit. Apakah seruan untuk menggugah kembali nasionalisme bangsa ini hanyalah pemanis atau memang sebuah komitmen dari mereka yang menyerukannya? Apakah bangsa ini harus kembali ke masa 'rezim' hanya untuk mengecap 'nikmatnya' Nasionalisme?

Sebuah bangsa tidak akan bisa berubah tanpa kesadaran bangsa itu sendiri

Comments

vendy said…
nothing can help someone, until he/she wants to change himself/herself.
Chic said…
yup... backward, not forward...
*sigh*
Avante said…
@vendy : Yup, tapi kalo cuma satu orang yang berubah, tidak akan merubah keadaan...

Kebenaran yang minoritas adalah sebuah kesalahan

@chic :
Iya, percuma juga lagu 'Garuda Pancasila' ada lirik "Ayo Maju" *sigh:juga*
sesy said…
hidup lagi mas?
BBM naik, pemerintah g mau denger apa kata ekonom negeri ini, di tantang di forum terbuka jg gak berani, di debat g bisa jawab, orang demo di tuduh menunggangi kelompok demo lain, menteri perdagangan yang g bisa liat harga n g bisa ngitung (beras dr harga 4rb jd 6 rb kok dibilang kenaikan 5%), dll. ya ampyun negara gw...............
ika said…
endonesa tambah mundur neh kayaknya

Popular posts from this blog

Numa - Numa Fever

Hari yang Aneh