Smack the Hyp's

Lagi-lagi tema Blog gw masih seputar acara TV, setelah beberapa waktu lalu "menyinggung" Sinetron, kali ini acara TV yang di negara asalnya gak bermasalah tapi bermasalah di Indonesia, yup... anda benar SmekDon!! (baca : SmackDown).

Sesuai dengan tema acaranya yang memang isinya kekerasan "buatan" yang berating Dewasa, ironisnya korban justru malah jatuh di pihak anak-anak. Kesalahan pun dilemparkan ke pihak stasiun TV dan mereka diharapkan untuk tidak menayangkan acara itu lagi (yang sudah pasti menimbulkan kerugian bagi Lativ!). Setelah sedikit membandel, pihak stasiun TV terdakwa pun menurut setelah kalah dalam "perang opini" melawan media-media lain.

Di satu sisi, hal ini menunjukkan betapa lemahnya pengawasan orang tua terhadap tontonan anak dan betapa "tidak bijak" (baca: kurang dewasa) pihak stasiun TV menayangkan acara seperti itu pada jam saat anak-anak masih bertebaran di depan TV. Yang menarik pikiran gw adalah kenyataan bahwa ini adalah sebuah "cerita lama" dan bentuk "kemunafikan" dari stasiun TV lain yang habis-habisan menghujat Lativ!.

Cerita Lamanya adalah Gulat Profesional itu bukan sesuatu yang asing di negeri kita, Indonesia tercinta, paling gak "olahraga" ini sudah dikenal di Indonesia sejak kurang lebih 10 tahun lalu saat masa jayanya Hulk Hogan di WCW, berlanjut ke masa The Rock di WWF dan sekarang... waduh gw gak tau nih siapa :p.
Untuk jam tayang, acara yang pertama malah ditayangkan siang-siang di Hari Minggu dibandingkan LTV memang lebih keterlaluan tetapi "dosis"nya LTV dalam penayangan memang Over Dosis kalau untuk dikonsumsi anak-anak (bisa lebih dari 4 jam sehari). Kedua acara terdahulu itu memang selalu diprotes karena selalu makan korban tapi yang terparah bisa dibilang kasus yang ketiga kalinya ini.

Gw sebut "kemunafikan" stasiun TV karena mereka seolah-olah "lempar batu sembunyi tangan" terhadap kesalahan yang tentu saja ada juga di pihak mereka. Kalau kita mau melihat lebih luas lagi justru muncul pertanyaan kenapa korban peristiwa kali ini lebih banyak dibanding sebelum-sebelumnya? Kalau gw seorang pemilik stasiun TV gw bakal jawab lemahnya pengawasan orang tua dan pihak stasiun TV terdakwa yang berlebihan dalam menayangkannya. Sedangkan saat ini gw adalah penikmat (yg mulai eneg tapi tetep nonton) acara TV jadi jawaban gw, kesalahan merata dipegang (hampir semua) stasiun TV. Ada hal penting lain yang mestinya dilihat disini yaitu gangguan terhadap anak di sekolah oleh anak lain atau bahasa kerennya child bullying. Sebenernya ini juga sudah lama ada,tetapi dalam skala kecil dan batas yang wajar. Untuk saat ini sepertinya kalau mau diadakan penelitian sudah mulai masuk ke tingkat yang cukup mengkhawatirkan apalagi kalau kita melihat tontonan stasiun televisi kita yang banyak sekali mengekspos anak-anak dengan tindakan, pakaian dan selera orang dewasa yang mungkin mereka sendiri belum tahu artinya buat diri mereka dan orang lain.

Memang keuntungan buat stasiun TV adalah segala-galanya... tetapi kalau mereka mau investasi coba tayangin acara yang lebih bermoral dong, tapi plis bukan moral munafik. Kalau itu sih kita bisa ngeliat langsung ke pemimpin-pemimpin negara ini. Bahkan mereka lagi nge-tren buat bikin video n gambar porno biar gak kalah sama anak-anak mahasiswa.

Comments

dendi said…
tes tes..
tadi komen tapi kok ilang yaa?
lagi ngetren ya komen ilang-ilang gini?
boku_baka said…
Yoih!! hapuskan Smackdown!
Ganti aja sama K1 atau UFC!!

*sama aja*
Vendy said…
sebetulnya, gue cuman bosen sama kata-kata "Don't try this at home" yang berkali-kali :))
Kristee said…
peran serta ortu dalam mengawasi anak2nya nonton tv perlu digaris bawahi juga kali ya.
pepeng said…
mm....salah ortu aja yg ga bisa ngasih penjelasan ke anak....
maunya bikin anak aja..ga bisa ngasih penjelasan ke anak..arrggghhh.....!!!!
Avante_Ray said…
@dendi : mungkin gara2 goblog (google-blogger) den

@pepeng : Emang peng... paling susah tu ngejelasin cara bikin anak sama anak2... ga bisa lewat praktek!!

Popular posts from this blog

Numa - Numa Fever

Hari yang Aneh