Kakek Merah Putih

Tulisan ini dibuat dalam rangka memperingati hari kemerdekan Negara Republik Indonesia yang ke-61 dan sekaligus peserta lomba 17 Agustusan Blogfam




Siang hari itu matahari bersinar cukup terik... panas... tapi entah kenapa aku tetap nekat berkeliaran di luar. Di kejauhan aku melihat seorang kakek dengan baju lusuhnya, mukanya cukup segar tapi rambutnya yang memutih dan sedikit acak-acakan membuat kesan segar di mukanya menghilang dan menunjukkan usianya yang sudah mulai beranjak tua.

Selayaknya anak muda tentu saja aku acuh saja melihat kakek-kakek itu, di siang seterik ini justru lebih menarik melihat pemandangan yang "segar" daripada seorang tua, tapi entah kenapa sikap sang kakek membuatku menaruh perhatian padanya. Di siang seterik ini dia justru berdiri tegap di salah satu sudut lapangan yang luas sambil menatap nanar di kejauhan dengan sikap seolah menghiraukan panas matahari yang dengan sombongnya menyengat untuk menunjukkan kehebatannya. "Apa yang ada dipikirannya?" pikirku.

"Sedang apa kek? Apa tidak kepanasan berdiri disitu?" tanyaku dengan gaya sok akrab.
Dia hanya melirik sekilas kepadaku dan tersenyum kecil... Sepertinya sih tidak mau diganggu.
"Ya sudah, saya hanya mau meminjamkan payung siapa tau kakek kepanasan... saya sendiri sih sudah biasa dengan cuaca sepanas ini"
Dia tetap diam, akupun segera membalikkan badan tetapi begitu hendak melangkah tiba2 dia bertanya
"Kau tahu siapa aku anak muda?"
Dengan bingung, aku menatap wajahnya. Dilihat sekilas sih tampak asing buatku tapi kesan yang ditimbulkannya setelah beberapa saat wajah ini adalah wajah yang familiar.
"Tidak" jawabku cepat menurut apa yang terlintas pertama kali di pikiranku.
"Hehehe... sudah kuduga" balasnya sambil tertawa kecil
"Akulah pendiri kota ini"
"Ooohhhh... Tapi kenapa saya tidak pernah melihat foto atau patung kakek yah?"
"Karena memang saya tidak pernah memintanya anak muda?"
"Kenapa?" tanyaku heran.
"Apa yang telah kakek lakukan saya rasa pantas untuk itu, meskipun kota ini bukan kota yang kaya raya tapi merupakan kota yang vital bagi kota-kota sekitar"

"Saya mendirikan kota ini bukan untuk melihat patung saya didalamnya anak muda" dia menghela nafas seolah hendak mencurahkan isi hatinya, kemudian dia menatap mataku dalam... agak grogi juga diperhatikan seperti itu sama 'orang penting' ini.
Kemudian dia menunjuk ke arah hamparan pohon-pohon yang hijau di sisi bukit lapangan itu "Kamu lihat kehijauan itu anak muda?"
"Ya"
"Apa pikirmu yang ada disana?"
"Hijau... pohon yang lebat dan pemandangan yang menakjubkan" jawabku tak mengerti maksud si kakek

"Lihat lebih dalam lagi anak muda" Dia merespon jawabanku sambil tersenyum kecil, tampaknya menyayangkan jawabanku yang dangkal.

"Dibawah pepohonan itu terdapat tanah-tanah yang gembur dan subur yang mampu menghasilkan aneka ragam tumbuhan dengan kualitas yang baik. Di dalam lebatnya pepohonan itu mengalir air sungai yang jernih yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan dari mulai air minum sampai sistem irigasi. Dan bila kau bisa melihat diujung sana ada pelabuhan ramai yang menjadi sumber penghidupan kota ini terutama dari hasil perdagangan kekayaan yang ada di kota ini"

"Ya... Lalu..." Aku makin penasaran dengan maksud kakek ini
"Kota ini memang kota yang kaya-raya anak muda, ini bukan kota yang miskin!" jawab kakek itu mantap.

"Kalau begitu kenapa kota ini tidak menunjukkan levelnya sebagai kota yang kaya kek? saya seringkali melihat kota-kota kaya lain di televisi. Dari apa yang terlihat dan terdengar disana sepertinya punya kondisi yang jauh sekali berbeda dengan apa yang saya hadapi di kota ini" Aku jelas tidak setuju dengan sang kakek.

"Hmmm, kamu punya perhatian juga terhadap kotamu anak muda?" si kakek berkata seperti itu sembari memegang dagunya, dari tatapan matanya seolah dia senang dengan bantahan yang aku berikan.
"Kamu bisa melihat daerah dekat pelabuhan itu?" tanyanya
Aku pun memicingkan mata...
"Iya! Cukup jelas terlihat dari sini!" jawabku mantap
"Apa yang kau lihat?" tanyanya lagi
"Ramai... kumuh... kering dan gersang...bukan pemandangan yang menyenangkan" Aku menjawab sambil membandingkan apa yang kulihat saat ini dengan pemandangan sebelumnya.

"Betul sekali, anak muda" dia merespon jawabanku dengan tatapan nanar ke arah pelabuhan
Mukanya tiba-tiba berubah menjadi serius sekali
"Mereka tidak tahu berterima kasih kepada alam yang kaya ini dan memanfaatkannya hanya demi keuntungan pribadi mereka" kata-katanya seolah mencoba menumpahkan kekesalan yang terpendam selama ini
"Lihatlah hutan-hutan di sekeliling pelabuhan itu, mereka tebang seenaknya sehingga tidak tersisa satu batang pohon pun. Sungai-sungai yang mengalir pun tak luput dari tumpahan nafsu mereka, sehingga akhirnya menjadi kotor dan bau... lihatlah apa yang dibawa sungai itu pada akhirnya ke laut.... hanya Sampah!" kata-katanya kali ini jelas sekali menunjukkan kekesalannya.
"Para penduduk kota ini tidak tahu caranya berterima kasih kepada alam!" Katanya lagi seolah menjadi puncak kekesalannya.

"Tapi bukankah itu hal yang wajar kek? Maksud saya bila kita diberi kekayaan alam sudah merupakan kewajiban kita untuk mengolahnya dan mengambil hasil darinya?" tanyaku dengan maksud menenangkan suasana.
"Apa kau yakin? bahwa mereka mengolahnya?" sang kakek balas bertanya
"Kamu lihat perumahan di sebelah itu?" dia menunjuk ke arah perumahan yang ada di sebelah lapangan.
"Apa yang kau lihat?"
"Rumah-Rumah penduduk, ada yang besar ada juga yang kecil, macam-macam lah tapi kesannya sumpek" kataku
"Apa kau pikir mereka saling kenal dengan tetangganya?" tanya sang kakek
"Mungkin kek, yah paling tidak kenal tetangga sebelah rumah lah" jawabku lagi
"Apa kau pikir rumah-rumah besar yang ada di depan itu kenal dengan rumah-rumah kecil yang banyak terdapat di belakang perumahan itu?"
"Sepertinya sih tidak kek..." jawabku ragu
"Kenapa?"
"Yah, karena status mereka berbeda kek" jawabku lagi
"Status... yak itulah yang dicari para penduduk kota ini anak muda... Mereka hanya mencari status sehingga pada akhirnya mereka bahkan tidak peduli dengan sesama penduduk, bukan cuma mereka yang sudah makmur bahkan yang miskin pun berlomba-lomba untuk mencari status anak muda... Begitu butanya mereka terhadap sebuah status bahkan mereka sampai lupa dengan sesamanya. Untuk sekedar membantupun harus ada embel-embel meningkatkan status mereka" kata sang kakek lagi kali ini agak sedih nadanya.

"Apa kau pikir mereka yang bahkan lupa dengan sesamanya tau cara berterima kasih kepada alam anak muda?"
Pertanyaannya kali ini menyentakku.
".... Tidak, Kek..." jawabku pelan
"Begitulah anak muda, penduduk kota ini sudah lupa dengan kota yang telah mereka diami"

"Coba lihatlah kearah keramaian di sebelah sana" Dia menunjuk ke arah keramaian di pusat kota di dekat pelabuhan.
"Saat ini aku sedang berulang tahun anak muda dan mereka sedang merayakan ulang tahun ku. Apa kau pikir mereka sadar saat ini aku sedang tidak ada disana?" tanyanya lagi
"Entahlah kek... mungkin saja tidak" jawabku
"Tapi kenapa kakek malah berdiam diri disini disaat para penduduk sedang larut dalam kegembiraan. Apakah kakek tidak ingin bergabung?" tanyaku penasaran
"Untuk apa anak muda... bila mereka merayakan hal itu hanya sekedar sebagai selebrasi tanpa pernah mengetahui siapa aku sebenarnya. Sepertimu tadi, mungkin mereka tidak kenal dengan siapa yang sedang mereka rayakan ulang tahunnya. Bahkan anak-anakku yang menjadi pemimpin di kota ini pun tidak peduli lagi dengan keberadaanku mereka lebih senang memperebutkan pengaruh dan popularitas demi bisa menjadi seorang pemimpin." Jawabnya pelan, kali ini kata-katanya seperti sebuah penyesalan akan kegagalannya mendirikan kota yang baik.

Tiba-tiba handphoneku berdering, aku pun segera tersadar dan mendapati keadaan di sekelilingku sudah gelap.
"Sudah malam rupanya" pikirku
Dan aku terheran-heran demi mendapati sang kakek sudah tak ada di depanku dan yang ada di sekelilingku adalah kamar yang tidak asing bagiku, kamar tidurku.
"Apa aku bermimpi?"
Aku pun bangkit menyalakan lampu. Setelah mataku menyesuaikan diri dengan kamar yang tiba-tiba menjadi terang, pandanganku tertuju pada sebuah bendera yang teronggok di salah satu sudut kamar. Bendera merah putih. Bendera yang akan kupasang besok di depan rumah. Tiba-tiba pikiranku melayang ke wajah sang kakek... Entah kenapa, mengingat kota sang kakek seperti melihat gambaran negara ini.
Aku tertegun.
Tiba-tiba handphoneku berdering.
Aku pun segera mengambil handphone yang tergeletak di meja belajar.
"Hhh... miskal doang" keluhku
Oh ternyata ada pesan masuk... si Iwan, teman akrabku mengajakku untuk ikut rapat Karang Taruna dalam rangka penyusunan kepanitiaan tujuh belasan. Rupanya dia menunggu balasanku dari tadi sehingga akhirnya dia miskal nomorku.

Aku pun segera mengambil handuk dan sebelum berangkat ke kamar mandi, kulipat bendera yang teronggok tadi dengan rapi dan kutaruh di dalam lemari pakaianku. Dan dalam hati aku berharap bila aku menjadi panitia kelak aku akan menghadirkan negaraku didalamnya sehingga aku dapat menghapuskan raut muka sedih sang kakek.

Indonesia, selamat berulang tahun ke 61. Dan mohon dimaafkan karena aku hanya dapat memberimu sebuah tulisan ini, sebuah suara kecil di rimba yang begitu luas

Comments

boku_baka said…
Merdeka Dam!
Hidup Indonesia tercinta! yeah! yeah!
Kemerdekaan memang bisa dimaknai bermacam. Tapi paling tidak.. kita sudah bebas, nggak perang lagi. bersyukurlah!

btw, Dam sang kakek itu nggak pesen yang lain? "Anak Muda, segeralah kamu lu..."


*kabooooorrrr*
Devi said…
ini cerita beneran ato cerpen? hihihi..sukses ya buat lombanya :)
Avante said…
@budi : Sebenernya mo gw tambahin tag-line itu Bud... tapi nanti jadi curhat :P

@devi : A true Fiction that comes from absurd mind :D
gw gak berharap banyak di lomba koq dah keluar tema soalnya, lagian tu lomba cuma buat bikin gw semangat aja nulis tentang Hari Kemerdekaan
Astrid said…
happy independence day =)tokoh si kakek terinspirasi dr mana neh...boleh jugaaa =)
Sisca said…
Selamat berlomba, semoga menang yaaaa....dan cerita ini menjadi inspirasi agar kita lebih peduli..

sayang ada miskol, jd terpotong heheheh
Anonymous said…
@Astrid : Si kakek dalam pikiran gw saat itu adalah wujud negara ini bila dia dalam bentuk manusia, yang letih, lelah serta bosan melihat perkembangan negara ini yang begitu-begitu saja. Sehinnga pada akhirnya membuat dia yang masih muda (sebagai negara) terlihat tua. Poor Old Indonesia

@Sisca : Miskal itu sepertinya emang salah waktu, tapi gimana lagi cerita sehari jadi lagipula saya paling males nulis yang panjang2 di blog saya :)

Popular posts from this blog

Numa - Numa Fever

Hari yang Aneh